Monitoring dan Evaluasi KKN UNSUR 2026 di Kecamatan Cugenang: Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Desa untuk Pemberdayaan Masyarakat
UNSUR.ac.id-Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Suryakancana Cianjur Tahun 2026 di Kecamatan Cugenang memasuki tahap monitoring dan evaluasi (Monev).
Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Universitas Suryakancana Cianjur Prof Dwidja Priyatno, SH., MH., SpN, Wakil Rektor 1 Dr. Hj. Iis Ristiani, S.Pd., M.Pd, Wakil Rektor 2 Dr Hj. Mia Amalia,SH., MH, Wakil Rektor 3 Dr. Anita Kamilah, SH.,MH, Para Kepala Biro, Ketua Harian Yayasan Pendidikan Suryakancana Hendri Sakti SH, MH dan Firman Mulyadi, SH, MH.
Pada saat monitoring KKN, hadir Koordinator dan para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), serta perwakilan mahasiswa peserta KKN dari 7 desa diantaranya, Desa Benjot, Desa Nyalindung, Desa Gasol, Desa Talaga, Desa Mangunkerta, Desa Cirumput, Desa Cibulakan. Monev ini untuk mengevaluasi capaian program KKN sekaligus menyusun langkah keberlanjutan bagi masyarakat.
Rektor Prof. Dr. H. Dwidja Priyatno, SH, MH, SPn mengucapkan terima kasih kepada mantan Bupati Cianjur, Pemerintah Kecamatan Cugenang, serta seluruh pemerintah desa yang telah menerima dan mendukung pelaksanaan KKN mahasiswa.
"Kami menyampaikan apresiasi atas sambutan yang sangat baik. Mahasiswa hadir bukan hanya untuk belajar, tetapi juga memberikan kontribusi nyata melalui berbagai program yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat," ujar Prof Dwidja.
Rektor berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat terus diperkuat agar hasil KKN tidak berhenti setelah mahasiswa selesai bertugas.
"Kami ingin program-program yang telah dirintis dapat terus dilanjutkan. Peran Dosen Pembimbing Lapangan harus tetap berjalan sehingga pendampingan kepada desa tidak terputus dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.
Koordinator DPL Kecamatan Cugenang yang juga DPL Desa Benjot Hasbu Naim Syaddad,S.Kom.,M.Kom dan Perwakilan DPL Desa Mangunkerta Mumuh M. Rozi, S.H., M.H.menjelaskan bahwa mahasiswa telah berkolaborasi dengan pemerintah desa dalam berbagai program termasuk salah satunya pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Selain itu program edukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik telah disosialisasikan kepada sekolah, PAUD, tokoh masyarakat, hingga warga desa.
"Beberapa program salah satunya program penanganan sampah disesuaikan dengan kondisi desa. Sosialisasi sudah dilakukan kepada masyarakat dan sekolah agar budaya memilah sampah dapat diterapkan sejak dini," ujarnya.
Selain pengelolaan lingkungan, mahasiswa juga memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM, meskipun jumlah peserta yang mengikuti pelatihan masih relatif terbatas sehingga perlu dikembangkan pada program berikutnya.
Di Desa Cibulakan, KKN mahasiswa memanfaatkan teknologi melalui penyusunan sistem informasi geografis desa sebagai sumber data pembangunan. Program tersebut dilengkapi dengan promosi potensi desa melalui video digital serta kegiatan mengajar di sekolah.
Bahwa wilayah Desa Cibulakan mahasiswa KKN masih menghadapi tantangan berupa penyalahgunaan narkoba yang telah masuk kategori zona merah. Oleh karena itu, mahasiswa turut memberikan edukasi pencegahan narkoba kepada masyarakat dan generasi muda.
Selain itu, program penanganan stunting terus dilakukan melalui berbagai kegiatan penyuluhan kesehatan, Jumat Bersih, serta aktivitas sosial kemasyarakatan.
Sementara itu, di Desa Cirumput, mahasiswa KKN memfokuskan program pada pengelolaan sampah organik melalui teknologi sederhana. Mereka membuat komposter rumah tangga, membangun biopori, serta memodifikasi dinamo mesin cuci menjadi alat pencacah sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos maupun pakan ternak.
Komposter yang dibuat juga menghasilkan pupuk cair organik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendukung pertanian rumah tangga.
Pelaksanaan program biopori dilakukan dengan memanfaatkan peralatan pinjaman dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Selain itu, mahasiswa turut melakukan pemetaan titik-titik sumber air sebagai bagian dari inventarisasi potensi sumber daya air desa.
Berbeda dengan desa lainnya, KKN di Desa Gasol lebih menitikberatkan program pada digitalisasi desa dan mitigasi bencana. Mahasiswa membantu pendataan koordinat wilayah, digitalisasi UMKM, pembuatan QRIS, hingga membantu pelaku usaha agar terdaftar di Google Maps.
Program Ngades (Ngajar Desa) juga dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah, penyemaian bibit unggul, edukasi anti perundungan (bullying), serta penyuluhan bahaya penyalahgunaan narkoba. Sebagai bentuk kesiapsiagaan bencana, mahasiswa menyusun peta jalur evakuasi berbasis koordinat digital.
Di Desa Mangunkerta, KKN mahasiswa menjalankan berbagai program konservasi lingkungan, pemetaan wilayah, silaturahmi dengan tokoh masyarakat, pendampingan UMKM, edukasi kesehatan keluarga, hingga penyusunan peta mitigasi bencana berbasis digital.
KKN mahasiswa juga melakukan pendampingan legalitas usaha juga menjadi perhatian agar pelaku UMKM memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan mampu meningkatkan daya saing usahanya.
Sementara di Desa Nyalindung, KKN mahasiswa hasil koordinasi bersama perangkat desa menunjukkan bahwa sistem irigasi masih menjadi salah satu persoalan utama yang perlu mendapatkan perhatian.
Mahasiswa KKN turut membantu pengelolaan internet desa, penyusunan data mitigasi bencana, pengelolaan sampah, pemasangan pembatas jalan, serta pendampingan pengurusan NIB bagi pelaku UMKM sebagai bagian dari program digitalisasi desa.
Pada kesempatan yang sama saat penerimaan monitoring dan evaluasi mahasiswa KKN di Desa Mangunkerta tepatnya di Jamaras Agro Farm (JAF), Mantan Bupati Cianjur H. Herman Suherman menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa selama pelaksanaan KKN di Kecamatan Cugenang.
"Kami sangat senang atas kehadiran Bapak Rektor beserta seluruh mahasiswa KKN di Desa Mangunkerta Cugenang. Kehadiran mereka memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama edukasi mengenai mitigasi bencana yang sangat dibutuhkan pascabencana gempa Cianjur," kata Herman.
Menurutnya, kondisi Kecamatan Cugenang kini terus berangsur membaik. Rumah-rumah warga yang sebelumnya rusak telah banyak dibangun kembali, fasilitas MCK juga semakin layak, sementara kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan terus meningkat.
Herman juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah yang setiap hari volumenya cukup besar. Sampah tersebut diharapkan tidak hanya dibuang, tetapi dapat diolah menjadi pupuk yang bernilai ekonomi.
Selain itu, penguatan kemasan produk UMKM, penanganan stunting, serta peningkatan ketahanan pangan menjadi agenda penting yang perlu terus didampingi.
Ia menambahkan, keberadaan Jamaras Agro Farm menjadi salah satu potensi strategis dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat. Saat ini sekitar 70 persen kebutuhan pangan masyarakat Cianjur masih dipasok dari luar daerah, sehingga peluang pengembangan sektor pertanian lokal masih sangat terbuka.
"Kami berharap hasil monitoring KKN Pa Rektor ini benar-benar memberikan dampak yang dirasakan masyarakat," tambahnya.(*/tim)